Minggu, 15 April 2012

Hipotesis dalam penelitian


1.1.1.      Pengertian Hipotesis dalam Penelitian
Trealese (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai suatu keterangan semnatara dari suatu fakta yang dapat diamati. Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.
Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel[1].

Dari arti katanya, hipotesis memang dari dua penggalan. Kata “HYPO” yang artinya “DI BAWAH” dan “THESA”  yang artinya “KEBENARAN” jadi hipotesis yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis.
Apabila  peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara , yang kebenarannya masih perlu di uji (di bawah kebenaran). Inilah hipotesis peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis. Peneliti mengumpulkan data-datadata yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul , peneliti akan menguji apakah hipotesis yang dirumuskan dapat naik status menjadi teas, atau sebaliknya tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.






Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan peneliti dapat bersikap dua hal yakni [2] :
1.      Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian).
2.      Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tandatanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).
Untuk mengetahui kedudukan hipotesis antara lain [3] :
1.         Perlu di uji apakah ada data yang menunjuk hubungan variabel penyebab dan variabel akibat.
2.         Adakah data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada ,memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
3.         Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bias menimbulkan akibat tersebut.
Apabila ketiga hal tersebut dapat dibuktikan , maka hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian.
G.E.R brurrough mengatakan bahwa penelitian berhipotesis penting dilakukan bagi :
1.         Penelitian menghitung banyaknya sesuatu
2.         Penelitian tentang perbedaan
3.         Penelitian hubungan.
Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.

1.1.2.      Kegunaan Hipotesis dalam Penelitian
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya:
1.         Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
2.         Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau di klasifikasi.
3.         Hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Sehingga, bisa disimpulkan bahwa kegunaan hipotesis antara lain [4]:
1.         Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
2.         Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian.
3.         Hipotesis memberikan arah kepada penelitian.
4.         Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan






1.1.3.      Jenis-Jenis Hipotesis dalam Penelitian
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian antara lain :
1.    Hipotesis kerja atau alternatif ,disingkat Ha, hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
Rumusan hipotesis kerja
a)    Jika... Maka...
b)    Ada perbedaan antara... Dan... Dalam...
c)    Ada pengaruh... Terhadap...
2.    Hipotesis nol (null hypotheses) disingkat Ho.
Hipotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y
Rumusannya:
a)    Tidak ada perbedaan antara... Dengan... Dalam...
b)    Tidak ada pengaruh... terhadap...
Saran untuk memperoleh hipotesis:
1.    Hipotesis induktif
Dalam prosedur induktif, penelitian merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan-hubungan yang diamati
2.    Hipotesis deduktif
Dalam hipotesis ini,peneliti dapat memulai penyelidikan dengan memilih salah satu teori yang ada dibidang yang menarik minatnya,setelah teori dipilih, ia lalu menarik hipotesis dari teori ini.


1.1.4.       Ciri-Ciri Hipotesis dalam Penelitian
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
1.    Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
2.    Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
3.    Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.
4.    Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
5.    Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
6.    Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
7.    Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.

1.1.5.      Menggali dan Merumuskan Hipotesis
Dalam menggali hipotesis, peneliti harus [5]:
1)          Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
2)        Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.
3)        Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuaia dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.
Good dan scates memberikan beberapa sumber untuk menggali hipotesis :
1)         Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu
2)         Wawasan serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan
3)         Imajinasi dan angan-angan
4)         Materi bacaan dan literatur
5)         Pengetahuan kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki.
6)         Data yang tersedia
7)         kesamaan.
Sebagai kesimpulan , maka beberapa petunjuk dalam merumuskan hipotesis dapat diberikan sebagai berikut :
1)         Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik
2)        Hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaraif dan berbentuk pernyataan.
3)        Hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat diukur.
4)         Hendaknya dapat diuji
5)         Hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori.

1.1.6.  Menguji Hipotesis
Sesuadah hipotesis dirumuskan , hipotesis tersebut kemudian diuji secara empiris dan tes logika.
Untuk menguji suatu hipotesis ,peneliti harus [6] :
1)        Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar.
2)         Memilih metode-metode penelitian yang mungkin pengamatan , eksperimental, atau prosedur lain yang diperlakukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak.
3)        Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data  atau tidak.

1.1.7. Mengembangkan Bentuk, Menerima Dan Menolak Hipotesis
Mengembangkan bentuk hipotesis
                           Menyatakan suatu bentuk hipotesis yang hendak digunakan peneliti sebaiknya juga  melihat terlebih dahulu pada masalah yang ingin diteliti. Jika penelitian setelah mengkaji dari bermacam-macam sumber informasi, dan kemudian menyusun penelitian dalam sebuah landasan teori, ternyata peneliti memperoleh kepastian tentang arah dari variabel yang telah diuji, maka peneliti dapat menggunakan hipotesis yang telah pasti atau hipotesis searah. Misalnya, peneliti yang meneliti tentang masalah penduduk yang berkaitan dengan masalah kriminal, mereka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut: “orang dewasa perempuan secara signifikan akan mempunyai rasa takut yang lebih besar dari pada orang dewasa laki-laki”.  Maka dalam analisis statistik, peneliti dapat menggunakan analisis testing satu ekor dan menulis hipotesisnya sebagai berikut:
                           Ha : U1 U2
                           Hr :  U1 U2
                           Keterangan : U1=kelompok wanita dewasa
                                                 U2=kelompok laki-laki dewasa  
                           Agar supaya fungsi hipotesis sebagai petunjuk dalam analisis data dapat dicapai dengan baik, peneliti harus dapat memformulasikan hipotesis  tersebut secara jelas. Untuk mencapai hal itu, ada beberapa hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap peneliti tatkala mereka mengembangkan hipotesis:
1.             Hipotesis harus dapat merefleksikan inti dari pada studi yang sedang dilakukan. Sebab hipotesis yang baik adalah hipotesis yang menyatakan variabel pokok yang ingin diteliti.
2.             Hipotesis sebaiknya dinyatakan atau ditulis secara tegas dan hanya mempunyai satu pengertian terhadap variabel yang akan diungkap untuk kemudian diuji.
3.             Rangkaian variabel yang hendak dinyatakan harus dapat diuji dengan informasi atau data yang dikumpulkan di lapangan. Untuk itu perlu sekali bagi peneliti untuk dapat merencanakan setiap variabel agar dapat diukur.
4.             Satu pernyataan hipotesis nihil harus diuji dengan satu testing statistika, seperti contoh dalam perencanaan penelitian dinyatakan tujuh hipotesis nihil, maka dalam analisis data juga perlu ada tujuh analisis statistikanya.
Menerima dan menolak hipotesis
                 Hasil uji hipotesis pada analisis statistika biasanya akan selalu jatuh pada dua kemungkinan yaitu menolak atau menerima. Suatu uji hipotesis ditolak jika dari uji statistika yang dilakukan peneliti memperoleh hasil akhir bahwa hipotesis nihil yang diajukan peneliti ditolak atau tidak diterima pada derajat signifikan tertentu. Hasil uji statistika ini dengan kata lain dapat diartikan bahwa adanya perbedaan hasil variabel yang terjadi bukan disebabkan oleh suatu kebetulan, tetapi memang didukung dengan data yang ada dilapangan. Interpretasi uji hipotesis dapat pula diartikan dengan melihat sisi lain yang diajukan peneliti, yaitu hipotesis pendamping. Hasil testing statistika menunjukkan bahwa hipotesis riset yang telah ada didukung  atau diterima sebagai hal yang benar.
                 Suatu hipotesis nihil dikatakan diterima, jika hipotesis nihil yang diturunkan dari hasil kesimpulan kajian teoritis diterima atau tidak ditolak. Jika ternyata tes statistika menerima hipotesis nihil, hal ini berarti bahwa perbedaan yang dihasilkan dari proses hasil kajian pustaka hanyalah disebabkan oleh suatu kebetulan saja, atau oleh adanya kesalahan yang tidak disengaja waktu mengambil data di lapangan. Atau dari hasil uji testing hipotesis diperoleh kesimpulan bahwa hipotesis riset yang telah diajukan peneliti sebagai hipotesis pendamping, tidak diterima atau tidak didukung oleh informasi yang ada.
                 Yang perlu diperhatukan oleh peneliti adalah proses uji testing tidak sama dengan proses dalam membuktikan seperti dalam ilmu matematika. Testing hipotesis tidak sama dengan membukktikan, dan dalam membuktikan rumus atau soal yang diajukan dalam matematika seorang siswa harus mengulang kembali, jika mereka belum bisa membuktikan formula yang diajukan. Sedangkan dalamuji hipotesis peneliti langsung dapat memasukkan pada dua kemungkinan yang ada, yaitu ditolak atau tidak dapat diterima, dan tidak ditolak atau diterima.


[1] Moh.Nazir,ph. D. Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta: 2003, hal 151
[2] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktika, Rineka Cipta, Jakarta: 1997, hal. 72
[3] Ibid, hal. 73
[4] Drs. Arief Furchon, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya: 1982, hal. 126
[5] Ibid, hal. 133
[6] Sanapioh Faiasl, Metodologi Penelitian Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya: 1982, hal. 19

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar