Rabu, 18 April 2012

Teori belajar Humanistik


BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuanya, sikap dan tingkah laku ketrampilan, kecakapanya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya penerimaanya. Jadi belajar adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui situasi yang ada pada siswa.

Dalam suatu pembelajaran juga perlu didukung oleh adanya suatu teori dan belajar, secara umum teori belajar di kelompokan dalam empat kelompok atau aliran meliputi: (1) Teori Belajar Behavioristik (2) Teori Belajar Kognitifistik (3) Teori Belajar Konstruktifistik (4) Teori Belajar Humanistik.
Untuk memahami lebih lanjut maka dalam makalah ini akan membahas mengenai Teori Belajar Humanistik.








1.2   Rumusan Masalah
1.    Apakah yang dimaksud teori belajar humanistik?
2.    Siapakah tokoh-tokoh teori belajar humanistik?
3.    Apakah ciri-ciri dan prinsip dalam teori belajar humanistik?
4.    Bagaimanakah aplikasi dan implikasi dari penerapan teori belajar humanistik dalam pembelajaran?


1.3   Tujuan Pembahasan
1.    Untuk mengetahui pengertian teori belajar humanistik.
2.    Untuk mengetahui tokoh-tokoh teori belajar humanistik.
3.    Untuk mengetahui ciri-ciri dan prinsip dalam teori belajar humanistik.
4.    Untuk mengetahui aplikasi dan implikasi dari penerapan teori belajar humanistik dalam pembelajaran.













BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Teori Belajar Humanistik
Teori belajar humanistik yang di pelopori oleh Abraham Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan behaveoristik. Menurut Abraham hal yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi  perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidak normalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori Freud. Pendekatan ini melihat kejadian setelah “sakit” tersebut sembuh, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal – hal positif. Kemampuan positif ini disebut potensi yang ada dalam manusia dan pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan pada hal – hal positif ini.
Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain efektif. Misalnya kemampuan dalam ketrampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat dengan orang lain, kepercayaan, penerimaan, kesadaran, memahami perasaan orang lain, kejujuran interpersonal dan pengetahuan interpersonal lainnya. Jadi intinya adalah meningkatkan kualitas keterampilan interpersonal dalam kehidupan sehari – hari. Selain menitikberatkan pada interpersonal, para pendidik juga membuat pembelajaran yang membantu peserta didik untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat, berimajinasi, mempunyai pengalaman, berintuisi, merasakan dan berfantasi. Pendekatan ini mengedepankan pentingnya emosi dalam dunia pendidikan. Freudian melihat emosi sebagai sebagai hal yang mengganggu perkembangan, sementara humanistik melihat keuntungan pendidikan emosi. Jadi bisa dikatakan bahwa emosi adalah karakteristik yang sangat kuat dan nampak dari para pendidik beraliran humanistik. Karena berfikir dan merasakan saling beriringan, mengabaikan pendidikan emosi sama dengan mengabaikan salah satu potensi terbesar manusia. [1]
2.2 Tokoh-tokoh Teori Belajar Humanistik
Adapun tokoh – tokoh yang mempelopori psikologi humanistik yang digunakan sebagai teori belajar humanisme sebagai berikut :
a)    Abraham Maslow
Di kenal sebagai pelopor aliran humanistik. Maslow percaya bahwa manusia bergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang paling di kenal adalah teori tentang Hierarchy of Needs ( Hirarki kebutuhan ). Dia mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri orang memiliki rasa takut yang dapat membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan. Manusia juga bermotivasi untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidupnya. Kebutuhan – kebutuhan tersebut memiliki hirarki ( tingkatan ) mulai dari yang rendah sampai yang tinggi. Adapun hirarki – hirarki tersebut adalah :
·         Kebutuhan fisiologis atau dasar
·         Kebutuhan akan aman dan tenteram
·         Kebutuhan akan dicintai dan disayangi
·         Kebutuhan untuk dihargai
·         Kebutuhan untuk aktualisasi diri

b)    Arthur Combs
Bersama dengan Donald Syngg ( 1904 – 1967 ) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning ( makna atau arti ) konsep sering yang di gunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak di sukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut, sehingga apabila merubah perilakunya, seorang guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidak menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang terpenting adalah bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi kepribadiannya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkan dalam kehidupan. Combs memberikan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran ( kecil dan besar ).

Ø Lingkaran kecil adalah gambaran dari persepsi diri
Ø Lingkaran besar adalah persepsi dunia.

c)    Carl Rogers
Adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu mengatasi masalah – masalah kehidupannya.[2] Menurutnya hal yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran yaitu :

1.    Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal – hal yang tidak ada artinya.
2.    Siswa akan mempelajari hal – hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
3.    Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bahan yang bermakna bagi siswa.
4.    Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom to learn, ia menunjukan sejumlah prinsip – prinsip yang terpenting adalah :
1.    Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami
2.    Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud – maksud tersendiri.
3.    Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri di anggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4.    Belajar yang bermakna di peroleh siswa dengan melakukanya.
5.    Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu.[3]
Salah satu model pendidikan terbuka mencakup konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondisi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif.  Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
1.    Merespon perasaan siswa
2.    Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
3.    Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4.    Menghargai siswa
5.    Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6.    Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa ( penjelasan untuk memantapkan kebutuhan segera dari siswa )
7.    Tersenyum pada siswa

Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.[4]
Bagaimana proses belajar dapat terjadi menurut teori belajar humanisme? Orang balajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya berhasil.[5]

d)   Bloom dan Krathwohl
Dalam hal ini, Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai ( dipelajari ) oleh siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan berikut.
1.    Kognitif
Kognitif terdiri dari tiga tingkatan:
1)      Pengetahuan ( mengingat, menghafal );
2)      Pemahaman ( menginterpretasikan );
3)      Aplikasi ( menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah );
4)      Analisis ( menjabarkan suatu konsep );
5)      Sintesis ( menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh);
6)      Evaluasi ( membandingkan ide, nilai, metode, dsb ).

2.    Psikomotor
Psikomotor terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
1)      Peniruan ( menirukan gerak );
2)      Penggunaan ( menggunakan konsep untuk melakukan gerak );
3)      Ketepatan ( melakukan gerak dengan benar );
4)      Perangkaian ( melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar );
5)      Naturalisasi ( melakukan gerak secara wajar ).

3.    Afektif
Afektif terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
1)      Pengenalan ( ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu );
2)      Merespon ( aktif berpartisipasi );
3)      Penghargaan ( menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
4)      Pengorganisasian ( menghubung - hubungkan nilai-nilai yang dipercayai );
5)      Pengalaman ( menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup ).[6]



e)    Kolb
Sementara itu, Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu:
1.    Pengalaman konkret;
Pada tahap ini seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu.
2.    Pengalaman aktif dan reflektif;
Siswa lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
3.    Konseptualisasi;
Siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau “teori” tentang sesuatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum ( generalisasi ) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda, tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.
4.    Eksperimentasi aktif
Siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Dalam dunia matematika misalnya, siswa tidak hanya memahami “ asal-usul” sebuah rumus, tetapi ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.[7]

f)     Honey dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb ini, Honey dan Mumford menggolongkan siswa menjadi empat tipe, yakni:
1.    Aktivis
Ciri dari siswa ini adalah suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru dan cenderung berpikiran terbuka serta mudah diajak berdialog. Namun, siswa seperti ini biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu. Dalam belajar mereka menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal baru, seperti brainstorming atau problem solving. Akan tetapi mereka cepat merasa bosan dengan hal-hal yang perlu waktu lama dalam implementasi.
2.    Reflektor
Siswa tipe ini cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah sehingga dalam mengambil keputusan mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya.
3.    Teoris
Siswa tipe ini biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Berpikir rasional adalah sangat penting. Dan mereka cenderung sangat skeptis dan tidak suka hal-hal yang spekulatif.
4.    Pragmatis
Siswa pada tipe ini menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Bagi mereka teori memang penting, tapi tidak akan berguna jika tidak dipraktikkan.[8]

g)    Habermas
Menurutnya belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dari lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini Habermas membagi belajar menjadi tiga bagian, yaitu:
1.    Belajar teknis ( technical learning )
Dalam belajar teknis siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
2.    Belajar praktis ( practical learning )
Pada belajar ini siswa juga belajar berinteraksi, tetapi yang lebih dipentingkan adalah interaksi dia dengan orang-orang di sekelilingnya.
3.    Belajar emansipatoris ( emancipatory learning)
Pada belajar ini siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan ( transformasi ) kultural dari suatu lingkungan. Inilah tujuan pendidikan yang paling tinggi.[9]
Psikologi humanistik dan pengajaran di dalam bagian ini berisi tentang bagaimana para psikolog humanistik berupaya menggabungkan keterampilan dan informasi kognitif dengan segi efektif , nilai – nilai,  dan perilaku antar pribadi. Sehubungan dengan itu akan di bicarakan tiga macam program :
a.    Confluent education
Adalah proses pendidikan yang memadukan atau mempertemukan pengalaman –  pengalaman efektif dengan belajar kognitif di dalam kelas.[10] Sebagai contoh  guru bahasa indonesia memberikan tugas pada para siswa untuk membaca sebuah novel, katakanlah misalnya tentang “keberanian” sebuah novel perang. Melalui tugas itu siswa diharapkan memahami isi bacaan tersebut dengan sebaik – sebaiknya tetapi juga memperoleh kesadaran antar pribadi yang lebih baik dengan jalan membahas pengertian mereka sendiri mengenai keberanian dan perasaan takut. Untuk keperluan itu tugas tersebut di lengkapi dengan tugas – tugas yang berkaitan, antara lain :

1)   Mewawancarai orang – orang yang tahu tentang perang.
2)   Mendengarkan musik perang, menuliskan pikiran – pikiran dan perasaan yang timbul secara bebas, kemudian menghayatinya dalam kelompok – kelompok kecil.
3)   Memperdebatkan apakah perang itu dapat dihindari ataukah tidak.
4)   Membandingkan perang saudara dengan sajak – sajak perang.

b.     Open Education
Adalah proses pendidikan terbuka, Menurut Walberg dan Thomas (1972), open education itu memiliki delapan kriteria :
1)   Kemudahan belajar tersedia, artinya berbagai macam bahan yang di perlukan untuk belajar tersedia
2)   Penuh kasih sayang, hormat, terbuka dan hangat artinya menggunakan bahan buatan siswa : guru menangani masalah – masalah tingkah laku dengan jalan berkomunikasi secara pribadi dengan siswa yang bersangkutan saja.
3)   Mendiagnosis peristiwa – peristiwa belajar , artinya siswa – siswa memeriksa pekerjaan mereka sendiri.
4)   Pengajaran, artinya pengajaran individual ; tidak ada tes ataupun buku kerja.
5)   Penilaian, artinya guru membuat penilaian secara individual : hanya sedikit sekali di adakan test formal.
6)   Mencari kesempatan untuk pertumbuhan profesional, artinya guru menggunakan bantuan orang lain, guru bekerja dengan teman – teman sekerjanya.
7)   Persepsi guru sendiri, artinya guru berusaha mengamati semua siswa untuk memantau kegiatan mereka.
8)   Asumsi tentang para siswa dan proses belajar, artinya suasana kelas hangat dan ramah, sehingga para siswa asyik melakukan sesuatu.[11]
Meskipun pendidikan terbuka itu memberikan kesempatan pada para siswa untuk bergerak secara bebas di sekitar ruangan dan memilih aktifitas belajar mereka sendiri, namun bimbingan guru tetap di perlukan. Kira-kira perlu di catat bahwa open education ini lebih efektif dari pada pendidikan tradisional dalam hal meningkatkan hal belajar yang bersifat efektif, kerja sama, kreatifitas, dll.
c.    Cooperative learning
Belajar cooperative merupakan fondasi yang baik untuk meningkatkan dorongan berprestasi siswa. Menurut Slavin (1980) cooperative memiliki tiga karakterisik sebagai berikut :
1)   Siswa belajar dalam tim – tim yang kecil (4-6 orang anggota) komposisi ini tetap selama berminggu – minggu.
2)   Siswa di dorong untuk saling membantu dalam mempelajari bahan yang bersifat akademik atau dalam melakukan tugas kelompok.
3)   Siswa diberi imbalan atau hadiah bagi yang berprestasi.
Adapun teknik dalam belajar cooperative learning itu ada empat macam :
a) Team game tournament (TGT); dalam teknik ini siswa –siswa yang kemampuan dan jenis kelaminnya berbeda di satukan dalam team (4 orang). Setelah itu guru menyajikan soal dan team lalu mengerjakan, saling mengajukan pertanyaan dan belajar bersama se team untuk menghadapi tournament yang biasanya di selenggarakan seminggu sekali.
b) Teams – achievement divisions; teknik ini juga menggunakan team (4 orang) tetapi kegiatan tournament  di ganti dengan bertanya selama lima belas menit. Skor – skor pertanyaan menjadi skor team.
c)  Jigsaw, dalam teknik ini siswa di masukan dalam tim –tim kecil yang bersifat heterogen. Bahan pelajaran di bagikan kepada anggota anggota team. Kemudian siswa tersebut mempelajari bahan pelajaran yang sama dengan team lain kemudian mereka kembali ke kelompoknya masing – masing dan menjelaskan apa yang telah dipelajari dari kelompok lain tersebut kepada kelompoknya.[12]
d) Group investigation adalah teknik di mana para siswa bekerja di dalam kelompok – kelompok kecil yang menangani berbagai macam proyek kelas. Setiap kelompok membagi tugas tersebut menjadi sub topik – sub topik, kemudian setiap anggota kelompok melakukan penelitian yang di perlukan untuk mencapai tujuan kelompok, setelah itu kelompok mengajukan hasil penelitiannya kepada kelas. Dalam metode ini hadiah atau point tidak di berikan.
            Menurut cooperative learning itu pada umumnya mempunyai efek yang positif terhadap prestasi akademik. Keberhasilan cooperative learning ini juga tergantung dengan kemampuan siswa berinteraksi di dalam kelompok. [13]
2.3 Ciri-ciri dan Prinsip dalam Teori Belajar Humanistik
2.3.1 Ciri-ciri teori belajar humanistik
Pendekatan humanisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Ada salah satu ide penting dalam teori belajar humanisme yaitu siswa harus mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa yang dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya. Dan juga siswa dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian maka siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil belajar bagi dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang meliputi bagian/domain yang ada yaitu dapat meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan kata lain, pendekatan humanisme menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode pembelajaran humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan siswa. Sehingga para pendidik/guru diharapkan dalam pembelajaran lebih menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan, kejujuran dan kreativitas untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran sehingga menghasilkan suatu proses pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tujuan dan hasil belajar yang dicapai siswa.[14]

2.3.2 Prinsip Teori belajar humanistik
Beberapa prinsip Teori belajar Humanistik:
1.        Manusia mempunyai belajar alami.
2.        Belajar signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu.
3.        Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
4.        Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan bila ancaman itu kecil.
5.        Bila ancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh cara.
6.        Belajar yang bermakna  diperoleh jika siswa melakukannya.
7.        Belajar lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar.
8.        Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam.
9.        Kepercayaan pada diri siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri.
10.    Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.
Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: (1). Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi pengalaman baru, (2). Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa, (3)  belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar, (4) belajar secara partisipasi jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri, (5) belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan  pribadi, pikiran maupun perasaan akan lebih baik  dan tahan lama, dan (6) kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri, orang lain tidak begitu penting.
2.4 Aplikasi dan Implikasi dari Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran

2.4.1 Implikasi Teori Belajar Humanistik

a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes ( petunjuk ) :
1.    Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas.
2.    Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.    Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.    Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.    Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.    Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7.    Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.    Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
9.    Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.
10.          Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganalisis dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.[15]

2.4.2 Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.        Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
2.        Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
3.        Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
4.        Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
5.        Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
6.        Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.        Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
8.        Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
Ciri-ciri guru yang baik dan kurang baik menurut Humanistik
Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Ruang kelas lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan.
Sedangkan guru  yang tidak efektif  adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.









BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Adapun tokoh dalam teori ini adalah Abraham Maslow, C. Roger dan Arthur Comb, dll.
Kemudian aplikasi dalam teori ini, siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Serta guru hanya berperan sebagai fasilitator.
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
1.         Merespon perasaan siswa
2.         Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
3.         Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4.         Menghargai siswa
5.         Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6.         Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa ( penjelasan untuk memantapkan kebutuhan segera dari siswa )
7.         Tersenyum pada siswa





DAFTAR PUSTAKA

B. Uno, M. Pd, Dr. Hamzah. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Dr. Iskandar, M.Pd. 2009. Psikologi Pendidikan. Cipayung: Gaung Persada ( GP ) Press
Hadis, M. Pd, Drs. Abdul. 2006. Psikologi dalam Pendidikan. Bandung: Alfbeta
Mahmud, Drs. M. Dimyati. 1990. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: BPFE -  Yogyakarta
novinasuprobo.wordpress.com/2008/06/15/teori-belajar-humanistik/ ( 4/4/ 2012 at 16.04)
http:// mihwanuddin.wordpress.com ( 4/4/2012 at 15.42)
http:// trimanjuniarso.files.wordpress.com (4/4/2012 at 15.38 )



[1] Dr. Iskandar,M.Pd . Psikologi pendidikan .,(Cipayung : Gaung persada (GP) Press,2009) hlm.114 - 118
[2]Ibid
[3]Dr. Iskandar,M.Pd . Psikologi pendidikan .,(Cipayung : Gaung persada (GP) Press,2009) hlm.114 - 118
[4] http:// trimanjuniarso.files.wordpress.com
[5] Drs. Abdul Hadis, M. Pd. Psikologi dalam Pendidikan. (bandung: Alfabeta, 2006) hlm. 72
[6] Dr. Hamzah B. Uno, M. Pd. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. ( Jakarta: Bumi Aksara ) hal. 14
[7] Dr. Hamzah B. Uno, M. Pd. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. ( Jakarta: Bumi Aksara ) hal. 15
[8] Dr. Hamzah B. Uno, M. Pd. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. ( Jakarta: Bumi Aksara ) hal. 16
[9] Ibid
[10]Drs. M. Dimyati Mahmud., Psikologi Pendidikan.,(Yogyakarta : BPFE – Yogyakarta, 1990) hlm 231
[11]Ibid
[12]Drs. M. Dimyati Mahmud., Psikologi Pendidikan.,(Yogyakarta : BPFE – Yogyakarta, 1990) hlm 234
[13]Ibid
[15] novinasuprobo.wordpress.com/2008/06/15/teori-belajar-humanistik/

1 komentar: